Inocentia Graciela Warman, dari Indonesia, jurusan psikologi, Tacoma Community College (TCC) di Tacoma, Washington

Inocentia Graciela Warman, dari Indonesia, jurusan psikologi, Tacoma Community College (TCC) di Tacoma, Washington

Mengapa kamu memutuskan belajar di A.S.?

Menurut saya, bersekolah di A.S. menawarkan banyak peluang akademik maupun kesempatan untuk membangun kemampuan karakter (misalnya kepemimpinan, jejaring sosial, dan banyak lagi). Jadi saya bisa mengalami sekaligus belajar lebih jauh dari orang lain karena pelajar di sini lebih beragam daripada di negara saya. 

Mengapa kamu memilih TCC?

Pertama, TCC paling cocok bagi saya karena berlokasi di Tacoma, kota yang tidak terlalu besar. Tacoma bukan kota besar yang serba cepat, tapi juga tidak di daerah pedesaan. Saya menghindari sekolah di kota besar karena saya bisa kewalahan dan susah menyesuaikan diri. Tapi saya juga menghindari kota kecil karena tidak terbiasa dengan suasananya. Jelas hal ini perlu dipertimbangkan sebelum mendaftar ke perguruan tinggi. Kedua, saya memilih TCC karena tidak terlalu banyak orang Indonesia di Tacoma. Jadi saya terpaksa harus bergaul dengan orang-orang dari beragam latar belakang. Memang sebaiknya meneliti populasi kota yang diinginkan. Alasan terakhir dan yang terpenting, biaya di TCC terjangkau. 

Apa yang paling kamu sukai tentang TCC?

Sebagai perguruan tinggi terkemuka, TCC memiliki banyak aspek yang mengagumkan. Salah satunya, banyak program dengan biaya cukup terjangkau dibanding di hampir semua perguruan tinggi 2 tahun lainnya. Namun aspek yang sempurna tentang TCC adalah ketersediaan berbagai sumber daya yang luar biasa untuk mencapai kesetaraan, keragaman, dan keterlibatan bagi beragam mahasiswa, dosen, staf, dan karyawannya. Selalu ada acara dan pembicara yang sangat menarik, atau hanya survei biasa (tidak wajib) mengenai suatu topik demi memastikan semua orang lebih dapat belajar sendiri dan suara mereka didengar maupun diwakili.

Apa yang paling kamu rindukan tentang Indonesia?

Jawaban saya sudah lazim di kalangan orang Indonesia, saya rindu sekali dengan makanan Indonesia. Masakan Indonesia kaya rasa dan bumbu, tidak seperti hampir semua makanan Amerika yang hambar menurut selera saya. 

Apa kekecewaan terbesar yang kamu alami?

Bukan kekecewaan terbesar, tapi saya mengalami kejutan budaya melihat cara mahasiswa di sini berbicara dan berinteraksi dengan dosen bagaikan teman. Hal ini baik, karena mahasiswa merasa nyaman bertanya secara informal, tapi kadang saya melihat mereka kurang hormat. Tentu saja kita tidak menghormati orang lain hanya karena mereka lebih tua, tapi seharusnya kita menghormati semua orang tanpa memandang identitas mereka. 

Bagaimana kamu mengatasi perbedaan bahasa?

Takut berbicara dalam bahasa asing memang benar-benar normal. Tapi setelah beberapa lama tinggal di sini, saya menyadari bahwa masyarakat setempat tidak begitu peduli jika kita kurang sempurna dalam berbicara bahasa Inggris. Mereka tidak berharap kita mengucapkan atau melafalkan Bahasa Inggris dengan tata bahasa yang benar. Mengucapkannya dengan percaya diri adalah langkah pertama yang terpenting. Takut membuat kesalahan hanya akan membuat kita berhenti belajar. Tidak ada hukuman bila kita melakukan kesalahan, tidak akan ada yang mengingatnya dan kita terus belajar maupun berkembang. 

... keuangan?

Saya membuat anggaran mingguan untuk beberapa hal seperti sewa tempat tinggal, biaya kuliah, makanan, belanja, dan lain-lain. Setiap kali setelah melakukan pengeluaran, saya mencatatnya di jurnal untuk memantau dan memastikan bahwa saya tidak menggunakan uang melebihi anggaran yang ditetapkan di awal minggu. Penting bagi saya untuk menetapkan anggaran dan melacaknya agar tidak impulsif. Membuat anggaran mingguan daripada bulanan atau tahunan juga membantu saya mengetahui perlu tidaknya merevisi anggaran saya. Saya juga berusaha untuk tidak sering menukarkan US Dolar ke mata uang saya agar tidak terlalu merasa bersalah. 

...menyesuaikan diri dengan sistem pendidikan yang berbeda?

Saya lebih suka sistem akademik U.S. per kuartal (masa belajar selama 3 bulan/10 minggu) daripada sistem semester (masa belajar selama 6 bulan/15 minggu) sehingga tidak perlu melakukan banyak penyesuaian. Menurut saya, sistem kuartal membantu saya menyelesaikan banyak hal karena lebih cepat, jadi mengurangi kejenuhan terhadap sistem semester. Tapi kekurangannya, kita bisa merasa kewalahan (misalnya saat ujian tengah semester) karena sangat padat dibandingkan sistem semester. Jadi, mempelajari bahan/mengerjakan tugas terlebih dulu akan lebih bermanfaat untuk memaksimalkan masa belajar ini. 

Saya juga lebih suka memilih kelas sendiri daripada ditetapkan masuk ke kelas tertentu. Dengan demikian, kita bisa memilih sendiri kelas yang cocok dengan tujuan masa depan atau hanya karena kita menyukai subjeknya. 

Apa saja kegiatan kamu?

Sebelum masa karantina, aktivitas saya banyak. Saya bekerja sebagai mentor di International Office Department (Departemen Kantor Internasional), jadi saya cukup beruntung karena bekerja dan bepergian bersama para mahasiswa transfer dan mahasiswa program studi jangka pendek. Saya juga cukup aktif di klub voli. Tapi karena pandemi, saya hanya memfasilitasi beberapa kegiatan seperti orientasi dan International Happy Hour (acara bulanan bagi mahasiswa asing untuk berkumpul, main game, dan mengobrol santai). Satu-satunya yang tidak berubah adalah, saya masih mengikuti program homestay dengan ibu pemilik rumah yang sangat baik.

Seberapa sulit atau mudah berteman di Amerika?

Tergantung kepribadian masing-masing, tapi menurut saya tidak sulit. Orang-orang di sini lebih individualis. Pertama-tama tampaknya mereka tidak suka bergaul, tapi sebenarnya mereka hanya memiliki prioritas yang berbeda dibanding mereka yang berasal dari negara kolektivis. Orang-orang di sini senang sekali berbasa-basi dan menerima pendapat yang berbeda. Menurut saya, orang yang berpikiran terbuka dan mengutarakan pendapat dengan sopan tidak akan sulit menjalin pertemanan di Amerika. 

Apa tujuan karirmu? Apa kaitan pendidikan A.S. dengan dengan tujuan pribadimu dan keperluan negaramu? 

Saya belum memikirkan tujuan karir tertentu, tapi saya ingin bekerja di bidang psikologi. Pendidikan di A.S. sangat relevan untuk tujuan pribadi saya karena banyak literatur psikologi dipublikasikan di A.S. terlebih dulu. Seandainya saya kuliah di Indonesia, saya tidak akan memiliki akses lebih cepat ke studi terbaru yang ada (karena perlu waktu untuk diterjemahkan dan disetujui) padahal hal ini amat sangat penting di bidang psikologi karena kita harus selalu bekerja dengan menggunakan logika dan nalar terbaru. Studi di sini juga hampir tidak terpengaruh oleh agama mayoritas dan status hirarki masyarakat, sedangkan negara saya masih mengaitkan kedua hal ini. Saya yakin, bersekolah di sini akan dapat menghasilkan perspektif lain yang baru yang akan bermanfaat dibanding cara konvensional di negara saya. 

Ada saran bagi pelajar di Indonesia yang ingin bersekolah di A.S.?

Saran saya, lakukan banyak penelitian mengenai semua kemungkinan lembaga pendidikan di A.S. yang diinginkan. Amati semua pro & kontra secara menyeluruh dengan cara menyelidikinya bersama orang tua, wali, atau teman yang sudah bersekolah di A.S./luar negeri. Penting pula menggunakan sumber daya yang berbeda (misalnya StudyUSA.com) atau rekanan dan agen pendidikan lainnya. Mengajukan pertanyaan atau meminta bantuan bukan tanda kelemahan! Justru sebaliknya merupakan tanda kekuatan karena kita berani mengakui bahwa kita tidak mengetahui hal tersebut, sehingga kita menerima semua jawaban dan informasi terkait. 

Show More


Inocentia Graciela Warman, dari Indonesia, jurusan psikologi, Tacoma Community College (TCC) di Tacoma, Washington

SUSA_img_200x55.jpg
Unduh majalah kami Study in the USA®